Senin, 04 Mei 2015

MANUSIA DAN KEINDAHAN

Hubungan Manusia Dengan Keindahan
        Manusia adalah makhluk ciptaan ALLAH swt yang paling sempurna dibandingkan dengan makhluk lainnya, karena manusia mempunyai akal dan pikiran untuk berfikir secara logis dan dinamis, dan bisa membatasi diri dengan perbuatan yang tidak dilakukan, dan kita pun bisa memilih perbuatan mana yang baik (positif) atau buruk (negatif) buat diri kita sendiri. Selain itu dapat diartikan manusia secara umum adalah manusia sebagai makhluk pribadi dan makhluk sosial. Karena bukan hanya diri sendiri saja tetapi manusia perlu bantuan dari orang lain. Maka sebab itu manusia adalah makhluk pribadi sekaligus makhluk sosial.
        Keindahan, sering diutarakan kepada situasi tertentu, arti kata keindahan yaitu berasal dari kata indah, artinya bagus, permai, cantik, elok, molek dan sebagainya. Keindahan identik dengan kebenaran. Keindahan identik dengan kebenaran, sesuatu yang indah itu selalu mengandung kebenaran. Walaupun kelihatanya indah tapi tidak mengandung kebenaran maka hal itu pada prinsipnya tidak indah. Keindahan atau keelokan merupakan sifat dan ciri dari orang, hewan, tempat, objek, atau gagasan yang memberikan pengalaman persepsi kesenangan, bermakna, atau kepuasan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, keindahan diartikan sebagai keadaan yang enak dipandang, cantik, bagus benar atau elok. Keindahan dipelajari sebagai bagian dari estetika, sosiologi, psikologi sosial, dan budaya. Sebuah “kecantikan yang ideal” adalah sebuah entitas yang dikagumi, atau memiliki fitur yang dikaitkan dengan keindahan dalam suatu budaya tertentu, untuk kesempurnaannya.
        Manusia dan keindahan adalah dua hal yang tidak pernah akan lepas dan tidak dapat dipisahkan, karena pada dasarnya manusia itu sendiri adalah karya cipta Allah yang paling indah dan terencana. Bayangkan, mulai dari penempatan mata, hidung, mulut dan anggota tubuh lainnya, bahkan jauh dari itu semua akal adalah ciptaan yang paling menakjubkan yang hanya Allah berikan kepada manusia. Dan pada hakekat diri Allah itu sendiri adalah dzat yang Maha Indah dan cinta pada keindahan.

Senin, 20 April 2015

MANUSIA DAN PEMUJAAN

Pemujaan Manusia Kepada Sang Pencipta
        Pemujaan disebut juga bagaimana kita sebagai manusia ingin berkomunikasi kepada sang pencipta atau dalam bentuk komunikasi ritual. Manusia memiliki kewajiban dalam hidup untuk memuja penciptaNya dengan cara mereka masing-masing sesuai dengan agama dan kepercayaannya. Contoh yang sangat sering kita lihat yaitu beribadah, dengan beribadah seseorang akan bersyukur kepada sang pencipta atas apa yang tlah diberikan selama ini. Cara lain dalam pemujaan kepada sang pencipta yaitu dengan menciptakan karya misalnya sejenis lagu atau puisi yang bertemakan tentang pemujaan kepada sang pencipta. Dapat juga dikatakan bahwa pemujaan kepada sang pencipta itu merupakan sebuah inti dalam kita hidup, karna jika tidak ada sang pencipta tidak mungkin ada alam semesta yang indah ini dan tidak mungkin kita dapat hidup didunia ini.
        Pemujaan terhadap sang pencipta juga disebut cinta mutlak, yaitu cinta yang tidak dapat ditawar-tawar lagi, sehingga jika kita hanya mencintaiNya sekejap makan kita akan berdosa. Dalam komunaksi ritual juga kita akan senantiasa memohon ampun atas segala dosa-dosa yang telah kita lakukan, memohon rezeki yang sebanyak-banyaknya, memohon diberi kemudahan dalam hal apapun, memohon keselamatan hidup didunia maupun diakhirat.
        Nah dalam islam kita tidak boleh hanya cinta kepada Allah SWT saja, namun kita tidak boleh melupakan Rasul-Rasulnya. Rasul merupakan cinta mutlak yang merupakan peringkat kedua dari cinta kita kepada Allah SWT. Rasul merupakan panutan kita untuk menjadi seorang muslim dan muslimah yang baik. Misalnya panutan dalam hal tingkah laku terhadap sesama dan juga sifat-sifatnya yang harus kita contoh. Jika kita telah mencintai Allah SWT dan Rasul-Rasulnya maka kita akan dapat ketenangan dan ketentraman dalam hidup sehingga kita dapat hidup damai didunia maupun diakhirat.

Senin, 13 April 2015

3 UNSUR CINTA KASIH MENURUT SARWONO

Cinta Ideal
       Pengertian Cinta dikemukakan oleh Dr. Sarlito W. Sarwono dalam majalah Sarlinah dengan artikel yang berjudul  Segitiga Cinta. Dikatannya bahwa cinta ideal memiliki Tiga Unsur, yaitu Keterikatan, Keintiman, dan Kemesraan.
       Yang dimaksud dengan Keterikatan adalah adanya perasaan untuk hanya bersama dia, segala prioritas untuk dia, tidak mau pergi dengan orang lain kecuali dengan dia harus ditepati, atau ada uang sedikit beli oleh-oleh hanya untuk dia.
       Keintiman yaitu adanya kebiasaan-kebiasaan dan tingkah laku  yang menunjukan bahwa antara anda dan dia sudah tidak ada jarak lagi sehingga panggilan-panggilan formal seperti Bapak, Ibu, Saudara digantikan dengan sekedar memanggil nama atau sebutan sayang. Makan-minum dari satu piring-cangkir tanpa rasa risih pinjam-meminjam baju, saling memakai uang tanpa rasa berutang, tidak saling menyimpan rahasia, dan lain lainnya.
       Kemesraan yaitu adanya rasa ingin membelai atau dibelai, rasa kangen kalau jauh atau lama tidak bertemu, adannya ucapan-ucapan yang mengungkapkan rasa sayang, saling mencium,merangkul,dan sebagainnya.



Daftar Pustaka  :
Drs. Widyosiswoyo, Supartono. 1993. Ilmu Budaya Dasar. Bogor. Ghalia Indonesia

Senin, 06 April 2015

ILMU BUDAYA DASAR YANG DIHUBUNGKAN DENGAN PROSA


ASAL USUL KOTA BANYUWANGI

        Pada zaman dahulu di pantai timur Pulau Jawa atau Jawa Timur berdiri sebuah kerjaan yang diperintah oleh seorang raja. Raja tersebut memiliki seorang putra bernama Raden Banterang yang kelak akan menggantikan ayahnya sebagai raja. Raden Banterng adalah sosok yang gagah, cakap, dan bagus parasnya. Sayangnya, Raden Banterang mudah sekali marah.
        Suatu hari Raden Banterang berburu dengan beberapa pengiringnya. Dalam perburuan tersebut, Raden Banterang berpisah dengan pengiringnya dan sampailah ia di sebuah sungai. Di tepi sungai tersebut ada seorang gadis yang cantik sedang memetik bunga. Raden Banterang langsung tertarik padanya. Kemudian Raden Banterang mengajaknya berkenalan dan bertanya mengapa ia sendirian di sini. Gadis itu ternyata bernama Surati, putrid Raja Klungkung. Dia berada di situ karena ia takut apabila serangan musuh datang lagi. Beberapa waktu lalu kerajaan yang dipimpin ayahnya diserang kerajaan lain. Ayahnya gugur dalam mempertahankan mahkota kerajaan. Sejak saat itu Surati mengembara seorang diri dan sampailah ia di tempat itu. Mendengar cerita Surati, Raden Banterang hanya bisa diam. Karena ia mengetahui bahwa yang menyarang kerajaan Klungkung adalah ayahnya sendiri. Raden Banterang merasa iba pada Surati dan memutuskan untuk membawanya ke istana.
        Beberapa waktu kemudian Raden Banterang menikahi Surati. Rakyat merasa senang karena Raden Banterang mempunyai istri yang cantik dan berbudi pekerti yang luhur. Karena sikap Surati yang baik hatilah, Raden Banterang menjadi tidak pemarah lagi.
        Suatu hari Raden Banterang sedang berburu dan Surati sedang berjalan-jalan di luar istana. Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang memanggil Surati. Surati menoleh kearah orang yang memanggilnya. Alangkah kagetnya ketika ia melihat siapa yang memanggilnya tadi. Ternyata adalah kakak kandungnya. Dia tak pernah menyangka kalau kakaknya masih hidup. Kakak kandungnya tersebut menyuruhnya untuk membantu menuntut balas atas kematian ayah mereka. Namun, Surati menolaknya karena ia merasa berhutang budi pada Raden Banterang yang telah menyelamatkannya dari kesengsaraan. Karena tidak mendapatkan dukungan dari adiknya, kakak Surati memutuskan untuk balas dendam dengan caranya sendiri.
        Pada saat berburu tiba-tiba ada seorang pengemis mendatangi Raden Banterang. Raden Banterang dihasut oleh pengemis tersebut yang sebenarnya adalah kakak Surati yang sedang menyamar. Pengemis tersebut berkata bahwa ia mendengar pembicaraan Surati dengan kakak kandungnya tentang rencana mereka balas dendam atas kematian ayah mereka. Pengemis itu juga bilang bahwa apabila Raden Banterang tidak percaya, Raden Banterang harus melihat di bawah peraduan permaisuri Surati terdapat sebuah ikat kepala seorang laki-laki. Setelah itu pengemis tersebut langsung menghilang. Raden Banterang ingin membuktikan kebenaran ucapan pengemis itu. Bergegaslah ia pulang.
        Setibanya di istana Raden Banterang langsung menuju tempat peraduan istrinya. Kecewanya ia ketika melihat ke bawah peraduan istrinya ternyata memang ada sebuah ikat kepala laki-laki.
        Raden Banterang tak bisa menahan lagi kemarahannya. Diajaknya istrinya ke muara sebuah sungai. Tiba di muara sungai diceritakannya semua laporan yang didengarnya dari seorang pengemis saat sedang berburu. Raden Banterang lalu menanyakan hal itu pada Surati dengan nada marah. Surati bersumpah pada Raden Banterang bahwa ia tidak melakukan apa yang diceritakan pengemis itu pada Raden Banterang. Namun, Raden Banterang tetap tidak percaya. Maka dihunusnya keris yang terselip di pinggangnya. Sebelum keris itu ditikamkan pada Surati, Surati melompat ke sungai lalu menghilang. Kemudian pengemis tadi datang sambil neneriakkan sebuah kata yaitu Banyuwangi. Pengemis tersebut menjelaskan semuanya dan ia juga bilang bahwa Banyuwangi adalah tanda cinta suci dari Surati untuk Raden Banterang.
        Raden Banterang menyesali perbuatannya. Raden Banterang terburu nafsu tanpa menyelidikinya dengan cermat. Perbuatannya membawa maut bagi permaisuri yang dicintainya. Sejak saat itu tempat permaisuri menghilang dalam dasar sungai disebut Banyuwangi yang berarti air yang harum.

Berikut merupakan nilai-nilai yang dapat diambil dari sebuah dongeng diatas.
        Cerita tersebut dapat memberikan nilai kesenangan kepada pembacanya karena cerita tersebut dapat membawa pembaca kedalam cerita terutama latarnya yaitu ada sebuah hutan, ada juga sungai serta banyak bunga-bunga disana.
  Cerita tersebut juga dapat memberikan nilai informasi kepada pembacanya misalnya saja kita tidak tahu kalau dulu itu sistem kehidupan manusia berdasarkan kerajaan serta adanya peperangan antar kerajaan. Selain itu informasi lainnya yaitu seorang raden atau anak pangeran itu suka berburu. Nah karena kita membaca cerita ini kita dapat membayangkan bagaimana kehidupan manusia pada jaman dahulu dan apa yang dilakukan manusia pada saat-saat itu. Dan informasi yang paling penting yaitu kita dapat mengetahui dari mana asal kota Banyuwangi.
  Selain dua nilai diatas, cerita tersebut juga dapat memberikan nilai warisan budaya kepada pembacanya. Salah satunya yaitu saat ini kita dapat mengetahui dimana letak kota Banyuwangi yang disebutkan dicerita itu. Dan kota Banyuwangi benar-benar ada didaerah Jawa Timur.
        Terakhir kita akan mendapatkan nilai keseimbangan wawasan dari cerita tersebut. Misalnya kita pasti selalu berfikir bahwa seorang raja dalam suatu kerajaan itu mempunyai sikap yang menjunjung tinggi nilai persatuan, nyatanya setelah membaca cerita diatas kita tahu bahwa tidak semua raja seperti itu bahkan banyak pula raja yang sering melakukan peperangan. Selain itu anak raja yaitu raden mempunyai sifat yang gampang marah, padahal kita berfikir bahwa anak raja itu mempunyai sifat yang patut untuk dicontoh para rakyatnya.

Senin, 23 Maret 2015

KAITAN MANUSIA DENGAN KEBUDAYAAN

Kebudayaan Dalam Diri Manusia
     Manusia dan kebudayaan memiliki kaitan yang sangat kuat diantara keduanya. Di alam dunia ini manusia berkedudukan sebagai pelaku kebudayaan dan kebudayaan berkedudukan sebagai apa yang dilakukan dan dilaksanakan manusia sehari-harinya. Manusia dan kebudayaan sangat berbeda namun manusia dan kebudayaan merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Manusia menciptakan kebudayaan, misalnya aturan-aturan atau norma-norma dalam menjalankan kehidupan sehari-hari dan setelah kebudayaan itu dibuat, manusia dituntut untuk mematuhi dan menjalankan aturan-aturan dalam kebudayaan tersebut. Maka dari itu manusia tidak akan pernah lepas dari kebudayaan. Manakah yang lebih awal muncul antara manusia dan kebudayaan, banyak yang menganalisa tentang itu.

     Disisi lain, manusia dan kebudayaan dapat dikatakan setingkat atau setara atau disebut juga dialektis, maksudnya saling terikat satu sama lain. Prosesnya tercipta melalui tiga tahap, yaitu pertama eksternalisasi, merupakan proses dimana manusia mengekspresikan dirinya dengan membangun dunianya. Melalui eksternalisasi ini masyarakat menjadi kenyataan buatan manusia. Kedua obyektivasi, merupakan proses dimana masyarakat menjadi realisasi obyektif, yaitu suatu kenyataan yang terpisah dari manusia dan berhadapan dengan manusia. Dengan demikian masyarakat dengan segala pranata sosialnya akan mempengaruhi bahkan membentuk perilaku manusia. Dan yang terakhir internalisasi, merupakan proses dimana masyarakat disergap kembali oleh manusia. Maksudnya bahwa manusia mempelajari kembali masyarakatnya sendiri agar dia dapat hidup dengan baik, sehingga manusia menjadi kenyataan yang dibentuk oleh masyarakat.

Senin, 16 Maret 2015

HAKEKAT MANUSIA

Hakekat Manusia Dimata Umum

     Manusia diciptakan oleh Allah SWT. Manusia merupakan makhluk hidup yang paling sempurna karena telah diberikan keistimewaan berupa akal dan pikiran yang melebihi makhluk hidup lainnya. Maka dari itu sudah dipastikan manusia dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Manusia merupakan khalifah dimuka bumi, maksudnya adalah manusia yang mengatur seluruh kegiatan dibumi. Manuia dituntut untuk merawat dan menjaga semua yang ada dipermukaan bumi. Hakekat artinya kebenaran atau dapat disebut juga hakekat adalah inti dari segala sesatu. Jadi hakekat manusia adalah kebenaran atau inti dari segala sesuatu dari diri manusia itu sendiri. Manusia dapat dilihat dari banyak sudut pandang yang berbeda-beda. Misalnya dari segi ekonomi, segi sosiologi dan lain-lain.

     Dilihat dari segi ekonomi, manusia merupakan makhluk ekonomi yaitu manusia memiliki banyak kebutuhan untuk memenuhi kepuasan hidupnya. Misalnya saja manusia mempunya tiga kebutuhan pokok yang harus dipenuhi yaitu sandang atau pakaian, pangan atau makanan, serta papan atau tempat tinggal. Belum lagi kebutuhan-kebutuhan tambahan lainnya yang terkadang manusia merasa itu juga penting bagi kehidupannya. Nah untuk memenuhi kebutuhan semua itu diperlukanlah yang disebut ekonomi. Jadi dapat dikatakan manusia tidak akan bisa lepas dari ekonomi.

     Dilihat dari segi sosiologi, manusia merupakan makhuk sosial. Maksudnya adalah manusia tidak akan bisa hidup sendiri didunia ini. Bahkan sejak lahir pun manusia tidak bisa lepas dari manusia lainnya. Terlebih lagi jika manusia sudah tumbuh dewasa, memiliki keturunan serta hingga saatnya meninggal dunia manusia membutuhkan bantuan dari manusia lainnya. Kita sebagai manusia hidup bersosialisasi atau bertetangga, sehingga cenderung memiliki sifat ketergantungan atau saling membutuhkan satu dengan yang lainnya. Jadi dapat disimpulkan bahwa manusia selalu berinteraksi dengan manusia lain untuk mencapai suatu tujuan yang diinginkan.

Senin, 09 Maret 2015

ILMU BUDAYA DASAR

Pentingnya Ilmu Budaya Dasar
       Ilmu Budaya Dasar merupakan pengetahuan yang diharapkan dapat memberi pengetahuan dasar dan umum tentang konsep-konsep yang dapat digunakan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan. Ilmu Budaya Dasar bertujuan untuk mengembangkan daya tanggap, persepi, penalaran, dan apresiasi berkenaan dengan lingkungan budaya. Tema-tema ilmu budaya dasar merupakan tema-tema inti permasalahan dasar manusia yang dialami dan dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.

       Pada zaman sekarang terdapat kecenderungan bahwa ilmu atau ilmuwan sering mengabaikan masalah sikap dan perilaku moralnya sendiri terhadap sesama manusia. Ilmuwan dalam menerapkan ilmunya sering mengabaikan unsur manusiawinya, kurang berbudaya, dan tidak halus. Padahal, pembangunan nasional itu pada hakikatnya adalah pembangunan manusia. Kebudayaan diartikan sebagai hasil pemikiran atau akal manusia. Ada juga pendapat bahwa kebudayaan diartikan sebagai hasil dari akal dan ikhtiar manusia.

       Kita perlu mengenal lebih mendalam diri kita sendiri sebagai manusia maupun orang lain yang sebelumnya lebih dikenal luarnya saja, misalnya pemikiran dan perasaannya. Kita perlu mengenal perilaku diri kita sendiri maupun orang lain sebagai bekal penting untuk pergaulan hidup. Kita perlu bersikap luwes dalam pergaulan setelah mendalami jiwa dan perasaan manusia, serta tahu masalah perilaku manusia. Kita perlu tanggap terhadap hasil budaya manusia secara lebih mendalam sehingga lebih intens terhadap masalah-masalah pemikiran, perasaan, serta perilaku manusia, dan ketentuan yang menciptakannya.

     Berikut merupakan definisi kebudayaan dari bud. ayawan Indonesia. Ki Hajar Dewantara mengatakan, bahwa kebudayaan berarti buah budi manusia, adalah hasil perjuangan manusia terhadap dua pengaruh kuat, yakni alam dan zaman (kodrat dan masyarakat) dalam perjuangan mana terbukti kejayaan hidup manusia untuk mengatasi berbagai-bagai rintangan dan kesukaran di dalam hidup dan penghidupannya, guna mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang pada lahirnya bersifat tertib dan damai. Sutan Takdir Alisyahbana mengatakan, bahwa kebudayaan adalah menifestasi dari cara berfikir, hal ini amat luas apa yang diebut kebudayaan, sebab semua laku dan perbuatan tercakup didalamnya, dan dapat diungkapkan pada bais dan cara berpikir, perasaaan juga maksud pikiran. Koentjaraningrat mengatakan, bahwa kebudayaan antara lain berarti keseluruhan gagasan dan karya manusia yang harus dibiasakan dengan belajar beserta keseluruhan dari hasil budi pekertinya.

       Berikut merupakan definisi kebudayaan dari bangsa asing. A. L. Kroeber dan C. Kluckhohn dalam bukunya “Culture, a critical review of concepts and definitions”(1952) mengatakan, bahwa kebudayaan adalah manifestasi atau penjelmaan kerja jiwa manusia dalam arti seluas-luasnya. Malinowski menyebutkan, bahwa kebudayaan pada prinsipnya mendasarkan kepada sistem kebutuhan manusia. Tiap tingkat kebutuhan itu menghadirkan corak budaya yang khas, misalnya guna memenuhi kebutuhan manusia akan keselamatannya menimbukan kebudayaan berupa perlindungan, yakni seperangkat budaya dalam bentuk tertentu semisal lembaga kemasyarakatan. C. A. van Peursen mengatakan, bahwa dewasa  ini kebudayaan diartikan sebagai manifestasi kehidupan setiap orang, dan kehidupan setiap kelompok orang-orang, berlainan dengan hewan-hewan, maka manusia tidak hidup begitu saja ditengah alam, melainkan selalu mengubah alam.


Daftar Pustaka
Drs. Winyosiswoyo, Supartono. 1987. Ilmu Budaya Dasar. Jakarta. PT Pandega Widya Caraka.